Senin, 19 Agustus 2013

Ismaya, Sanghyang




SANG HYANG ISMAYA adalah putra kedua Sang Hyang Tunggal dengan Dewi Wirandi atau Rekatawati, putri Prabu Yuyut/Resi Rekatama, raja Samodralaya. Ia mempunyai dua saudara kandung bernama Sang Hyang Tejamaya alias Sang Hyang Antaga dan Sang Hyang Manikmaya. Sang Hyang Ismaya juga mempunyai tiga orang saudara kandung seayah lain ibu, putra Dewi Darmani, putri Sang Hyang Darmayaka dari Selong, masing-masing bernama: Sang Hyang Rudra atau Dewa Esa, Sang Hyang Dewanjali dan Sang Hyang Darmastuti.

Sang Hyang Ismaya dikenal juga dengan nama Sang Hyang Punggung. Ia menikah dengan Dewi Senggani, atau Dewi Kanastren putri Sang Hyang Wening. Dari perkawinan tersebut ia mendapatkan 10 orang putra masing-masing bernama: Batara Wungkuam, Batara Temboro, Batara Wrahaspati, Batara Syiwah, Batara Surya, Batara Chandra, Batara Yama alias Yamadipati, Batara Kamajaya dan Betari Darmastutri
Sang Hyang Ismaya berwajah tampan. Suatu ketika ia berkelahi dengan Sang Hyang Tejamaya karena memperebutkan siapa yang tertua diantara mereka dan yang berhak menjadi raja Tribuana. Akibatnya wajah mereka menjadi jelek. Oleh Sang Hyang Tunggal mereka diberitahu, bahwa dahulu mereka lahir berujud telor. Yang tertua Sang Hyang Tejamaya, tercipta dari kulit telur. Kemudian Sang Hyang Ismaya, tercipta dari putih telur dan Sang Hyang Manikmaya yang tercipta dari kuning telur.

Karena kesalahan itu, Sang Hyang Tejamaya harus turun ke Arcapada, mendapat tugas memberi tuntunan para angkara dan berganti nama menjadi Togog. Batara Ismaya mendapat tugas menjadi pamong trah Witaradya. Ia turun ke pertapaan Paremana menjelma pada cucu nya sendiri, Smara atau Semar putra Batara Wungkuam. Turunnya Batara Ismaya ke bumi bersamaan waktunya dengan kelahiran Bambang Manumayasa. Manumayasa adalah ksatria pertama yang menjadi momongan ‘asuhan’ Semar. Manumayasa itulah yan kelak menurunkan trah Pandawa dan Kurawa.

Semar adalah dewa angejawantah, artinya dewa yang menjelma menjadi manusia biasa. Walaupun ia manusia biasa namun sifat-sifat dewatanya sesekali muncul. Terutama pada saat yang gawat. Misalnya ketika ada bencana yang menimpa momongannya atau ada dewa yang mencoba merusak harmoni alam. Semar segera tampil untuk menenteramkan dunia. Semar adalah sosok yang misterius.

Kedudukannya sebagai abdi atau sebagai pengasuh namun juga sebagai pangayom. Ia juga seorang penghibur jika tuannya sedang mendapat kesusahan. Dalam budaya Jawa Semar menjadi tokoh mitologi yang penting. Bahkan banyak yang percaya bahwa Semar saat ini masih hidup dan bertahta di Gunung Srandil, Cilacap.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar